Entri Populer

Rabu, 16 Maret 2011

Kisahku KAHLIL GIBRAN

Dengarkan kisahku… . Dengarkan,
tetapi jangan menaruh belas
kasihan padaku:
kerana belas kasihan
menyebabkan kelemahan,
padahal aku masih tegar dalam penderitaanku..
Jika kita mencintai,
cinta kita bukan dari diri kita,
juga bukan untuk diri kita.
Jika kita bergembira,……… .. ~Kahlil Gibran~

Syukur KAHLIL GIBRAN

Bangun di fajar subuh dengan
hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh
sinar kecintaan
Istirahat di terik siang
merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan
syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa
bagi yang tercinta dalam
sanubari Dan sebuah nyanyian kesyukuran
terpahat di bibir senyuman

KAHLIK GIBRAN. Setitis Air Mata Seulas Senyuman

Takkan kutukar dukacita hatiku
demi kebahagiaan khalayak.
Dan, takkan kutumpahkan air
mata kesedihan yang mengalir
dari tiap bahagian diriku berubah
menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setitis air
mata dan seulas senyuman.
Setitis airmata yang menyucikan
hatiku dan memberiku
pemahaman rahsia kehidupan
dan hal ehwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku
dekat kepada putera
kesayanganku dan menjelma
sebuah lambang pemujaan
kepada tuhan. …… .. ~Kahlil Gibran~

Selasa, 15 Maret 2011

Kegagalan Sang Penemu Lampu Pijar

Kegagalan adalah awal dari keberhasilan, begitu orang bijak berkata. Memang kalimat itu tidak salah.
Buktinya banyak orang-orang sukses yang mana kesuksesannya diawali kegagalan terlebih dahulu. Salah satu kisah kegagalan yang termasyhur adalah kisah yang dialami oleh penemu lampu listrik, Thomas Alfa Edison. Beliau adalah penemu banyak benda, salah satunya yang paling terkenal adalah lampu listrik. Lalu bagaimana kisah penemu yang satu ini? Awalnya, ketika ia masih kanak- kanak, ia dikatakan idiot oleh guru-guru di sekolahnya. Ia dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak bertanya dan menurut para guru pertanyaannya tidaklah masuk akal. Ia pernah bertanya "Kenapa
ayam berbulu dan manusia tidak berbulu?", "Kenapa bulu manusia berbeda dengan bulu ayam?", "Bagaimana bulu ayam bisa menempel di tubuhnya?". Gurunya pun bingung untuk memberikan jawaban yang tepat agar ia tak bertanya lagi. Akhirnya guru-guru pun sepakat mengeluarkannya dari sekolah. Mereka tidak menyadari kalau rasa ingin tahu Thomas Alfa Edison itu merupakan cerminan dari kejeniusannya, sehingga pertanyaan yang ia lontarkan melampaui batas usia dan zamannya saat itu. Setelah dikeluarkan dari sekolah, Thomas kecil dikurung oleh orangtuanya di gudang sebab mereka harus pergi bekerja. Namun, Thomas kecil tidak bersedih, ia malah senang karena
menemukan banyak benda yang bisa dijadikan mainan, dibongkar dan dirakit kembali olehnya. Suatu hari, ia pernah bertemu dengan anak perempuan tetangganya, Mary. Anak itu bertanya, "Kamu sedang apa?" dan Thomas kecil menjawab, "Saya sedang mengerami telur ayam". Mary heran dengan apa yang Thomas kecil lakukan. "Apakah menurutmu telur ayam yang kau erami itu akan menetas?", jawaban Thomas saat itu adalah,
"Kalau saya belum mencobanya, bagaimana saya bisa tahu ia akan menetas atau tidak?"

Menginjak remaja akhirnya Thomas Alfa Edison kembali bersekolah. Selesai menamatkan sekolahnya, ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia pernah bekerja sebagai tukang koran dan beberapa pekerjaan kasar yang menguras tenaga. Ia baru mapan setelah berhasil menemukan mesin perekam suara. Ia pun menikah dengan Mary dan tinggal di rumah yang sekaligus merangkap sebagai laboratorium penelitiannya. Namun, Mary lebih dulu meninggal sebelum Thomas berhasil menemukan lampu listrik. Beberapa tahun kemudian rumahnya terbakar habis. Ia kemudian dilanda krisis keuangan yang memaksanya untuk meminjam uang demi membangun kembali rumah dan laboratoriumnya. Ia mengatakan akan menemukan lampu listrik yang saat itu dianggap mustahil, untuk meyakinkan orang yang ia pinjami uang. Setelah mendapat pinjaman, Thomas memulai percobaan- percobaannya untuk menemukan lampu listrik. Percobaannya selalu gagal sampai puluhan kali bahkan ratusan kali. Namun ia tidak menganggap dirinya gagal. Ia mengatakan bahwa ia telah berhasil menemukan ratusan benda yang tidak dapat menyalakan lampu listrik. Konon, ia telah melakukan seribu kali percobaan. Ia sampai-sampai stress, bingung dan panik, namun tak pernah menyerah. Dan percobaannya yang keseribu itulah yang berhasil. Lampu listrik yang ia temukan kini mampu menerangi dunia. Seandainya tidak ada penemuannya itu, pastilah dunia tidak bisa seterang sekarang. Pesan dari Thomas Alfa Edison adalah "Betapa banyak orang yang menyerah padahal hanya perlu beberapa langkah lagi untuk sampai pada keberhasilan." Dan satu kalimat bijak dari beliau, "Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal." Selamat jalan sang penemu besar. Kau tak hanya menerangi dunia dengan penemuanmu tapi juga menerangi dunia dengan kisah kegagalan yang menginspirasi orang-orang yang tak ingin gagal.

Senin, 14 Maret 2011

PASAR KEMBANG

di sini perempuan-perempuan
menggadaikan kemaluannya tanpa bisa menebus kembali sanggupkah kau
menebuskannya? kau pasti berpikir: aneh! tapi itulah kenyataan barangkali jalan Pasar Kembang akan kian bertambah panjang dan kian meluas arealnya dan akan bertambah ratusan
bahkan ribuan perempuan-perempuan
menggadaikan kemaluannya dan tanpa bisa menebus kembali sampai kempis nafasnya berhenti 15 Juli 1990

- Doa untuk Putraku -

Tuhanku...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan. Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan. Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan. Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan. Tuhanku... Aku mohon, janganlahpimpinputerakudi jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya. Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka. Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau. Dan, setelah semua menjadi miliknya... Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya. Tuhanku... Berilah ia kerendahan hati... Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki... Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna... Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"

Jumat, 11 Maret 2011

Sajak Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika
orang memuji milikku,
bahwa : sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan
Allah
bahwa rumahku hanya titipan
Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan
Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah
bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini
pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk
milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas
sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa
berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa
saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok
dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih Nya
harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita
menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra
dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang
tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari
kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan
sama saja”

~ WS Rendra